Newsjatim.com,KEDIRI | — Kasus dugaan keracunan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian Ormas Satu Darah Indonesia.
Informasi yang dihimpun awak media, jumlah siswa yang diduga mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG mencapai 39 siswa.
Sekretaris Jenderal (Sekjend) Satu Darah Indonesia, Achmad Masliyanto, meminta Pemerintah Kota Kediri dan seluruh pihak terkait tidak menganggap persoalan tersebut sebagai hal sepele.
Menurutnya, kejadian ini harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Achmad menilai, program MBG merupakan program yang menyasar anak-anak sekolah sehingga aspek keamanan, kebersihan, kualitas, serta kelayakan makanan harus menjadi perhatian utama.
“Kami sangat menyayangkan apabila program yang bertujuan memberikan makanan bergizi kepada anak-anak justru menimbulkan persoalan kesehatan. Keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama,” ujar Achmad.
Achmad mengatakan, adanya informasi puluhan siswa yang mengalami keluhan harus menjadi dasar bagi pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan secara serius.
Evaluasi, menurutnya, tidak hanya dilakukan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa, tetapi juga terhadap seluruh rantai penyelenggaraan MBG.
Mulai dari proses pengadaan bahan makanan, pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, pengemasan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa, seluruh tahapan tersebut dinilai perlu diperiksa.
“Kami tidak ingin mendahului hasil pemeriksaan laboratorium. Tetapi persoalan ini harus diperiksa secara serius.
Kalau nanti ditemukan adanya kelalaian atau pelanggaran prosedur, tentu harus ada evaluasi dan ditindak sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Kami juga mendorong agar hasil pemeriksaan, termasuk hasil laboratorium apabila telah tersedia, dapat disampaikan secara transparan kepada publik.
Menurut Achmad, keterbukaan informasi penting untuk memberikan kepastian kepada para orang tua siswa sekaligus mencegah munculnya berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
“Jangan sampai program MBG hanya mengejar jumlah makanan yang dibagikan, tetapi mengabaikan keamanan pangan.
Anak-anak harus mendapatkan makanan yang bukan hanya bergizi, tetapi juga aman untuk dikonsumsi,” katanya.
Satu Darah Indonesia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemerintah Kota Kediri, pengelola SPPG, pihak sekolah, tenaga terkait, serta unsur pengawasan agar standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG benar-benar diterapkan.
“Jangan menunggu korban bertambah baru dilakukan pembenahan. Keselamatan anak harus ditempatkan di atas kepentingan apa pun,” pungkasnya
Sampai berita ini dinaikkan pihak terkair belum bisa dikonfirmasi (Red)






