Newsjatim.com,KEDIRI-Video viral hajatan keluarga pengusaha Sanjaya yang viral di media sosial akhirnya mendapat penjelasan resmi.
Informasi yang beredar selama ini telah diedit dan tidak utuh, sehingga memicu kegaduhan serta persepsi negatif di masyarakat.
Acara yang sebenarnya merupakan momen sakral akad nikah dan resepsi keluarga besar Sanjaya tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri banyak tamu. Namun, potongan video yang tersebar di TikTok dan Facebook dinilai tidak menggambarkan kejadian secara keseluruhan.
Dalam keterangannya kepada awak media, Sanjaya menyampaikan apresiasi atas kehadiran puluhan awak media yang hadir dalam agenda klarifikasi tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki niat buruk terhadap pihak manapun.
Menurutnya, video yang beredar, termasuk yang melibatkan sosok Rudi Gareng, telah dipotong sedemikian rupa sehingga menimbulkan persepsi yang jauh berbeda dari fakta sebenarnya.
“Video yang beredar itu tidak utuh, banyak bagian yang dipotong. Padahal aslinya berbeda,” tegas Sanjaya.
Terkait sorotan terhadap puluhan karangan bunga yang memenuhi lokasi acara, Sanjaya mengklaim seluruh kiriman tersebut berasal dari relasi yang jelas. Ia menyebut ada sekitar 38 karangan bunga, termasuk yang berasal dari tokoh publik seperti Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Ia menjelaskan, kedekatan dengan para tokoh tersebut wajar karena keterlibatannya dalam kegiatan politik dan menghadiri berbagai undangan resmi sebelumnya.
Menanggapi kritik soal gaya bahasa yang dianggap kurang pantas saat berbicara di depan umum, Sanjaya memaparkan bahwa hal tersebut merupakan kebiasaan yang sudah lama melekat.
Hal ini tak lepas dari latar belakang kehidupannya yang dekat dengan lingkungan pekerja lapangan.
“Bahasa itu sudah melekat, bukan maksud merendahkan siapa pun,” ujarnya.
Sementara itu, terkait momen saat dirinya mengambil mikrofon, Sanjaya menjelaskan bahwa hal itu terjadi lantaran adanya ketidaksesuaian antara lagu yang diminta anaknya dengan yang diputar saat acara. Ia mengaku sudah menyampaikannya dengan cara yang sopan.
Pihak keluarga juga menegaskan, banyak momen penting dan konteks utuh dalam video yang justru tidak ikut disebarluaskan oleh pihak yang memviralkan.
Atas seluruh keributan ini, Sanjaya mengimbau masyarakat untuk tidak serta merta mengambil kesimpulan hanya dari potongan video yang bersliweran. Ia meminta publik melihat rekaman secara lengkap agar mendapatkan gambaran yang adil.
“Kritik itu wajar, namun harap lihat dulu konteks aslinya. Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin,” pungkas Sanjaya.
Kasus ini kembali mengingatkan betapa cepatnya penyebaran informasi tidak utuh dapat memengaruhi opini publik secara luas.






